Monday, April 9, 2018

Tertipu Oleh Diri Sendiri



Oleh : Jaya Setiabudi

Belasan tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku kuliah di Surabaya, saya sempat mengikuti pengajian rutin, yang dikelola oleh sebuah pondok pesantren ternama di Jawa Timur. Bukan keilmuan agama yang akan saya bicarakan disini. Tapi ada suatu pelajaran yang sangat berharga bagi saya tentang ‘kesombongan’! Seperti kebanyakan orang yang baru keluar dari ‘sekolah’ dengan segudang idealisme, perilaku sayapun berubah drastis. Setiap melihat suatu kejadian yang tidak ‘agamis’, spontan saya ‘nyebut’ kalimat Allah. Ada seorang (wanita) primadona kampus, sebut saja Susi (bukan nama sebenarnya). Saat itu, ia sedang berpakaian seronok dan bercengkerama mesra dengan pacarnya, yang tentu saja bukan muhrimnya. Begitu saya melihat kejadian itu, langsung keluar dari mulut saya ”masya Allah (kata yang sering diucap saat melihat sesuatu yang buruk)...!” Lepas dari kesalahkaprahan saya menggunakan kata itu (harusnya untuk suatu kekaguman), dalam hati kecil saya, terbesit anggapan bahwa ”Dia itu MAKSIAT, sedangkan saya lebih baik dari dia”.

Suatu saat...

...Susi datang bersama kawan-kawan yang lain (yang berjilbab), untuk belajar dengan saya guna menghadapi ujian semester yang segera datang. Baru kali itu Susi datang belajar ke tempat saya. Seperti biasa, pakaian Susi tergolong ketat, membuat saya istighfar terus, (kembali lagi) sambil mencemooh dirinya di hati saya. Pertemuan hari pertamapun selesai. Mereka berjanji akan melanjutkan belajar dengan saya di rumah kos saya esok harinya. Bak Fahri (dalam Ayat-ayat Cinta), Jayapun jadi idola wanita saat itu, narsis euy! Keesokan harinya, tak disangka, Susi datang ke tempat kos saya mendahului kawan-kawan lainnya. Setelah sejenak terdiam karena canggung, Susi berkata,”Jay, sebenarnya dari dulu aku pengin belajar sama kamu, tapi...!” Karena penasaran, saya tanya,”Tapi kenapa?” Dengan wajah tertunduk malu dan suara lirih ia menjawab,”Aku malu ketemu sama kamu! Aku merasa diriku ini ’kotor’, sedangkan kamu itu ’bersih’ dan alim”.

”Astaghfirullah Al’Adziim”, saya nyebut dalam hati dengan muka saya yang memerah, air mata yang hampir menetes. Sejenak saya berfikir,”Seandainya saat itu Allah mencabut nyawa kita berdua, mungkin sayalah yang pantas masuk neraka dan dia yang pantas masuk surga!” Koq bisa begitu? Ya, karena dibalik ’baju alim’ saya, terdapat ’kotoran hati kesombongan’. Sebaliknya, Susi yang merasa dirinya ’kotor’ tidak memiliki pikiran kotor terhadap orang lain. Jadi menurut saya, Susilah yang lebih ’suci’ dari saya.

Bukankah semua agama mengakui bahwa iblis, yang hampir sepanjang hidupnya taat, tidak dapat masuk surga karena ’kesombongannya’, karena merasa dirinya lebih unggul dari makhluk Tuhan lainnya? Sementara Nabi Adam, meskipun berbuat dosa, diijinkan masuk ke surga karena kerendahan hatinya? Guru saya pernah memperingatkan untuk berhati-hati terhadap suatu penyakit, yang disebut ’Tertipu oleh diri sendiri’. Penyakit ini justru akan muncul saat kita bertambah ilmu dan bertambah amal. Tapi ilmu dan amal itulah yang membuat kita terjerumus. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian!

”Daripada sibuk melihat aib orang lain, sibuklah melihat aib sendiri!”


Friday, February 9, 2018

Benarkah Bhineka Tunggal Ika mulai luntur..???


Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. "Kutipan Wikipedia"
Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara majemuk dengan artian masyarakatnya terdiri dari 5 agama yang diakui, beragam suku, bahasa, dan kebudayaan yang disatukan dengan bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia.

Tapi benarkah bhineka tunggal ika mulai runtuh..?? Jawabannya... Tidak.. Kenapa tidak..?? Saya di Kantor dengan orang yang beragam ada orang bali, batak, jawa, sunda dan kita semua akur-akur aja tuh..

Terus fenomena yang saling hujat sana sini di media sosial, apa bukan karena lunturnya bhineka tunggal ika...??

Karena Saya beragama Islam maka saya akan bahas dari sudut pandang saya sebagai muslim. 

Menurut hemat saya, itu bukan karena lunturnya Bhineka Tunggal Ika, tapi lebih dikarenakan oleh orang-orang yang so tahu. Maksudnya adalah orang yang bukan muslim tapi obrolannya ngebahas kitab orang muslim, atau orang muslim yang gak pernah ibadah ( gak pernah ngaji, gak pernah sholat atau sholatnya bolong-bolong sok tau dengan ngomongin agamanya sendiri akhirnya menyinggung orang muslim yang baik agamanya, yang paham akan agamanya (Siapa coba yang gak akan tersinggung..?? ).

Adapun kalo misal orang muslim diharuskan memilih pemimpin yang seiman, itu bukan berarti mereka tidak bhineka tapi karena memang ada aturan dari kitab suci Al-Qur'an kalo meraka harus memilih pemimpin dari golongan mereka sendiri. Tapi ketika ada orang yang ngatain mereka gak Bhineka gara-gara cuma harus memilih pemimpin sesama muslim, maka cek lagi deh mungkin orang itu yang gak Bhineka karena sudah melarang orang muslim untuk mengikuti perintah Tuhannya..Tuh contohnya di Papua sana pemimpinnya non muslim gak masalah kok karena memang mayoritas non muslim.

Adalagi yang ngomong pemimpin muslim di Indonesia banyak yang korupsi, ya liat dong di Amerika atau dinegara manasaja yang bukan mayoritas muslim yang korupsi bukan orang muslim karena muslim disana minoritas..Dimana saja selalu ada yang namanya oknum....!!!

Intinya, Tugas kita sebagai umat yang beragama adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Bukan mencampuri urusan agama orang lain. Bhineka Tunggal Ika bukan bararti kita ikut-ikutan merayakan umat agama lain tapi lebih ke menghormati keberadaannya tanpa perlu kita ikut-ikutan..

Friday, January 12, 2018

Pengalaman pertama kali kerja

Sedikit cerita aja tentang pengalaman pertama kali kerja. Pas pertama kali kerja status saya masih sebagai Mahasiswa Teknik Informatika yang sedang cuti kuliah dikarenakan proposal TA saya ditolak oleh Dosen Penguji. 

Singkat cerita karena kerjaan gak jelas cuma ngelamun di rumah kemudian jaga toko dan terus berulang seperti itu dikarenakan cuti kuliah. Tiba-tiba bapak saya nawarin lowongan pekerjaan diperusahaan kontraktor sebagai Asisten Drone. Jujur saya gak pernah nerbangin drone, gak pernah saya bilang suka drone tapi si Bapak bilang sama Ketua Tekniknya bahwa kebetulan saya suka sama yang namanya drone cuma memang belum pernah nerbangin aja.... BAH nepuk jidatttt...

Singkat cerita untuk kedua kalinya, Akhirnya saya mutusin untuk nerima pekerjaan itu dengan menggunakan IJAZAH SMK yang kebetulan, kebetulan, kebetulan sekali sangat kebetulan ternyata IJAZAH SMK saya sangat menjurus dengan istilah ngedrone karena DRONE pengganti kamera untuk membuat video grafer.. IJAZAH SMK saya jurusan Multimedia sangat erat dengan editing video.

Cuman ketika awal bekerja rasanya gak nyaman banget ya, awal kerja karena drone-nya rusak gegara nabrak pohon akhirnya saya bekerja ngisi data yang saya sendiri banyak gak ngerti dengan istilahnya orang civil, karena agak telmi akhirnya saya banyak nanya beberapa kali sama atasan ("pak maaf tadi untuk yang dokumen ini harus digimanain ya..??) sampe kepikiran pengen berhenti aja.



Tapi, ya akhirnya saya bertahan juga kerja sampe sekarang karena memang butuh yang namanya duit..Cuma saya masih penasaran dengan cara editing proyek jalan toll pake after effect buat masukin line mainroad udah ngubek2 Utube tetap tidak nemu tutorialnya.

Oh ya, suatu saat saya mau berhenti kerja karena pengennya jadi pengusaha cuma belum kesampean. Mungkin kalian ada yang mau ngajakin dan ngajarin caranya jadi pengusaha silahkan kasih tau saya hehehe.

Berikut hasil drone yang saya edit ketika galau..
tapi ini tidak berhubungan dengan kerjaan, karena video proyek toll sangat di rahasiakan..
jadi yang diambil video di luar jalur atau ketika drone mau landing..