Sunday, July 10, 2016

Cerita Ayah, Anak, dan Keledai


Cerita ini cukup menarik dan perlu kita pahami makna yang terkandung dalam cerita ini..

Cerita awalnya Sang Ayah hendak membawa Anaknya untuk pergi berdagang keluar kota, Ayahnya berpandangan bahwa Pendidikan yang efektif itu harus melalui dua proses yaitu Teori dan Praktek. Ayahnya ingin mengajarkan Anaknya untuk Resfek kepada Orang Tua dan juga mengajarkan betapa susah untuk mencari nafkah sehingga Anaknya bisa menghargai kedua orang tuanya dan tidak berfoya-foya.

Ceritanya Sang Keledai berbadan kecil dan membawa banyak bekal untuk diperjalanan sehingga Sang Ayah mengalah pada Anaknya. Ia rela berjalan kaki sambil menuntun keledai, Selang beberapa lama, mereka berpapasan serombongan orang yang lantas berbisik-bisik membicarakan mereka. Seorang diantaranya berkata "Kasihan sang Ayah, sudah tua masih harus berjalan kaki. Sementara si anak yang jauh lebih muda benar-benar tidak tahu diri. Seharusnya ia berjalan dan merelakan Ayahnya yang naik keledai".

Mendengar celotehan ini si anak merasa malu, Ia pun meminta Ayahnya naik keledai dan ia yang berjalan kaki. Selang beberapa saat kemudian mereka bertemu segerombolan orang, ketika hampir berpapasan mereka masih mendengar bisikan seseorang yang mengatakan "benar-benar ayah yang jahat, ia membiarkan anak sekecil itu berjalan kaki ditengah terik matahari sementara si ayah malah enak naik keledai.

Si ayah dan si anak kebingungan dengan ucapan mereka akhirnya si Ayah berinisiatif untuk menunggangi keledai itu berdua, tapi beberapa saat kemudian mereka bertemu lagi dengan segerombolan orang dan kembali berbisik "sungguh manusia yang jahat keledai sekurus itu harus ditunggangi dua orang dengan badan cukup besar belum ditambah oleh beban berat lainnya di punggungnya.

Mereka kembali kebingungan serba salah, akhirnya mereka berdua berjalan sambil menuntun keledai, diperjalanan mereka kembali bertemu segerombolan orang dan kembeli berbisik " dasar manusia bodoh punya keledai tapi mereka memilih berjalan kaki, sungguh manusia yang lebih bodoh dari keledainya".

Kali ini si ayah tak lagi bingung. Dengan tanggannya yang kuat si anak dinaikkan ke punggung keledai. Sebelum si anak protes ayahnya berkata "Hidup haruslah punya pendirian. Telinga memang berfungsi untuk mendengar. Tapi otak kita bertugas untuk menyaring semua yang tertangkap oleh pancaindera kita, termasuk oleh pendengaran.Sementara hati kita bertugas untuk menimbang mana yang tepat dan benar dan mana yang tidak. Dari awal kita telah melakukan kekeliruan membiarkan pendengaran yang bekerja sementara otak dan hati kita diam dan tak berfungsi. Kita membiarkan diri kita dipermainkan oleh keadaan yang datang dari luar. Kita harus bersikap dan punya pendirian dan kita harus berani mempertahankannya dengan segala konsekuensinya".